Semalam di Madura

Semalam di Madura

Semalam di Madura, ritualitas kultural tahunan yang rutin digelar pada 22 Oktober setiap tahunnya di Altar Monumen Arek Lancor Pamekasan. Reportoar kesenian tradisional ini menampilkan tim kesenian dari empat kabupaten di Madura ini. Ritualitas kebudayaan ini merangkai empat acara pada waktu yang hampir bersamaan, pemilihan Kacong-Cebbing Sumenep, Kerapan Sapi dan  Sape Sono’ di Pamekasan.Setidaknya, belasan kesenian tradisional dimunculkan dalam ritual tahunan ini. Dari tahun ke tahun, rangkaian acara ini semakin bergemuruh seiring dengan bergantinya generasi.Semalam di Madura menjadi tontonan yang menarik. Jalanan di sekitar Arek Lancor macet. Pada pegelaran tahunan yang muncul sejak tahun 1980-an ini seperti biasa di awali dengan music gamelan khas , Gendhing Madhure. Musik ini sebagai rasa hormat kepada tamu undangan. Di eras mutakhir, panitia melakukan reformulasi dengan memasukkan peragaan busana lokal, batik. Saat undangan memasuki gelanggang, gelombang tari bermunculan dari semua penjuru kabupaten di Madura.

Tim keseniaan Bangkalan, menampilkan Andholenan Baong. Ribuan penonton terkesima. Begitu pula saat tim tari dari Sampang tampil dengan Pajjer Laggu. Ada juga Tera’ Bulen, Baris dan Topeng Genntak khas Pamekasan. Sebagai modifikasi, musik Ul-Daul pun melengkapi acara ini.

Kesemarakan Semalam di Madura selalu bergemuruh setiap tahun. Semalam di Madura bukan hanya sekedar tontonan tetapi itu merupakan tuntunan agar generasi muda tidak melupakan kekeayaan kebudayaan khususnya di bidang kesenian. Semalam di Madura juga penegasan bahwa kebudayaan di Madura cukup beragam yang terpajang mulai dari Bangkalan hingga Sumenep.

Share