Karapan Sapi Piala Presiden 2011

Karapan Sapi Piala Presiden 2011

Bagi masyarakat Madura, sapi bukanlah sekedar hewan piaraan untuk membajak tanah atau untuk memenuhi kebuthan ekonomis belaka. Di Pulau Garam ini sapi menjadi bagian dari hidup yang mungkin bahkan nyaris lebih penting dari pada membaca koran bagi orang-orang kota. Sapi menjadi bagian dari gaya hidup yang di anggap dapat djadikan ukuran tingkat strata sosial sang pemiliknya.Maka tidak heran bila di Madura dijumpai berbagai event yang berkaitan dengan sapi. Seperti digelar Bakorwil Pamekasan bersama Madura Channel baru-baru ini. Dalam  event yang bertajuk Karapan Sapi Piala Presiden 2011 ini, berpasang-pasang sapi dibawa ke Stadion R. Soenarto Hadi Widjojo Pamekasan untuk di kerap. Tak ayal, ribuan masyarakat Madura dari 4 kabupaten didalamnya menyesaki stadion. Bagi masyarakat Madura Karapan Sapi Piala Presiden ini tak ubahnya ajang Formula 1 bagi para penggemar otomotif. Penonton tak hanya menyemut didalam arena. Mereka yang tak kebagian tiket bahkan rela memanjat pohon demi menyaksikan sapi-sapi pilihan ini dipacu menyusuri lintasan dengan cepat.

Menyiapkan seekor sapi untuk mengikuti kerapan tidaklah mudah dan murah. Jauh-jauh hari sebelum hari pelaksanann kerapan sapi, para pemilik sapi sudah melakukan terapi-terapi khusus agar sapinya bias menang. Sejak dari latihan rutin hingga diberi jamu berupa telur ayam yang jumlahnya bias mencapai tiga sampai empat puluh butir setiap harin. Layaknya manusia, tak jarang sapi tersebut juga diberi minuman bersoda dengan harapan tenaganya bisa berlipat ganda dan mampu berlari di lintasan dengan cepat dan meyakinkan. 

Hadiah, bagi para pemilik sapi kerapan bukanlah tujuan utama. Sebab hadiah tersebut bias dipastikan tidak lebih besar nilainya dari biaya perawatan sapi-sapi mereka. Prestise sebagai pemilik sapi tercepat dan terindah sudah lebih dari cukup. 

Satu-satunya keuntungan ekonomis yang bisa diperoleh oleh para pemilik sapiyang menang di lintasa pacu itu adalah harga jual sapinya yang makin mahal. Dan uniknya, dalam setiap perlombaan kerapan sapi, selalu ada dua pemenang. Yakni Pemenang dari Golongan Menang dan Pemenang dari Golongan Kalah. Kedengarannya, mugkin agak aneh, mana ada peserta yang sudah dinyatakan kalah, tapi masih juga bias jadi pemenang

Ya bisa, dan itu hanya ada di Madura. 😀

Share